MT. Arifin, mengatakan Muhammadiyah adalah salah satu organisasi keagamaan yang cukup populer di Indonesia. Muhammadiyah mendapatkan dukungan berupa sistem organisasi, amal usaha dan semangat dakwah yang tinggi menjadi pendorong yang luar biasa bagi Muhammadiyah untuk tetap berproses pada masyarakat secara intensif, sehingga Muhammadiyah berhasil menempatkan diri sebagai salah satu poros utama kepemimpinan sosial diluar sektor pemerintah. Persyarikatan ini bertujuan memberikan pencerahan umat melalui schooling, healing dan feeding dengan membentuk lembaga pendidikan, pelayanan kesehatan melalui pembuatan rumah sakit, serta memberdayakan kemanusiaan dengan membuat panti asuhan, sekolah luar biasa dan lain lain. Muhammadiyah berjuang melalui jalur kesehatan dengan mendirikan klinik kesehatan, rumah sakit, serta membantu orang orang yang tidak mampu dengan mendirikan panti asuhan.

Perjalanan persyarikatan Muhammadiyah harus terus terjaga. Prof Dadang Kahmad yang sebagai salahsatu ketua PP Muhammadiyah mengatakan bahwa Muhammadiyah lebih terfokus pada peningkatan dan pengembangan mutu amal usaha. Peningkatan ini untuk memperbaiki bangsa. Kelangsungan perjuangan persyarikatan Muhammadiyah harus terus berlangsung menyinari seluruh jagat. Menjaga kelangsungan ini memerlukan suatu proses kaderisasi yang terprogram, sistematis, berkelanjutan dan berkemajuan. Perkaderan dipandang sebagai bagian terpenting bagi kelangsungan suatu gerakan. Perjalanan Panjang suatu organisasi seperti Muhammadiyah dapat bertahan dan berkembang karena adanya perkaderan, dan semua organisasi sosial keagamaan telah menempatkan perkaderan sebagai bagian terpenting dari suatu organisasi itu (Latipun : 2018).

Urat Nadi Muhammadiyah
Muhammadiyah melihat perkaderan menjadi urat nadi bagi berlangsungnya persyarikatan serta amal usahanya. Perkaderan telah mulai sejak Muhammadiyah berdiri walaupun belum tertata secara formal. Muhammadiyah dicita citakan sebagai tulang punggung, pelopor, pelangsung, penyempurna Muhammadiyah dan amal dan usahanya. Artinya semua amal usaha Muhammadiyah untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar benarnya dimuka bumi ini harus didukung sepenuhnya oleh Angkatan Muda Muhammadiyah.

Angkatan muda Muhammadiyah yang sekarang ada, mereka berada di Ortom naungan Muhammadiyah. Mereka berada di Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah yang menyasar anak muda secara umum, Nasiyiatul Aisiyah yang bergerak membina putri putri Islam non Ipmawati dan Immawati, Hizbul Wathon yang bergerak di dunia kepanduan, serta Tapak Suci Putera Muhammadiyah yang membina mereka yang tertarik pada seni beladiri. (Suara Muhammadiyah: 2016)

Salah satu identitas Muhammadiyah adalah organisasi dakwah. Dimanapun warga Muhammadiyah, semua Angkatan Muda Muhammadiyah, dan bahkan keseluruhan AUM adalah sarana berdakwah. Sarana mendakwahkan Islam yang mencerahkan dan dan berkemajuan. Dakwah tidak bisa dipisahkan oleh mereka yang menghibahkan dirinya berjuang di Muhammadiyah. Kesadaran sebagai gerakan da’wah. Hilangnya kesadaran ini berlangsung lama. Kesadaran berda’wah hanya dimiliki persyarikatan. Bukan identitas Angkatan Muda Muhammadiyah dan Ortomnya. Da’wah hanya misi Muhammadiyah, sementara ortom lebih sibuk program internalnya. Misi dakwah harus selalu dibawa dalam setiap program dan kegiatannya. (Suara Muhammadiyah: 2016)

Dr. Irwan Akib. M.Pd. Rektor Unmuh Makasar mengatakan bahwa dalam sebuah organisasi peran kader menjadi penentu masa depan. Baik buruknya kader menjadi gambaran baik dan buruknya organisasi tersebut di masa depan. Dalam Muhammadiyah, kader Persyarikatan menjadi tulang punggung organisasi yang melanjutkan estafet kepemimpinan. Mewujudkan hal tersebut membutuhkan lembaga lembaga pendidikan, terutama pesantren yang digunakan untuk mencetak kader-kader persyarikatan. Penggunaan lembaga pesantren sebagai lahan perkaderan sudah ada dengan materi Al Islam dan Kemuhammadiyahan. Pembentukan IPM di sekolah, IMM di kampus, serta Tapak Suci sebagai bela diri. Penggunaan institusi untuk penguatan ideologi masih kurang. Mungkin cara penyampaian yang kurang kreatif atau mungkin jam yang perlu ditambah.

Hasil Data Survey yang Mencengangkan
Paryanto Anggota Majelis Pendidikan Kader Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada sesi Kajian Ideologi Perkaderan Pengajian Ramadhan 1440 Hijriyah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Jum’at 10 Mei 2019 mengungkapkan bahwa Saiful Mujani Research Center (SMRC) melakukan survei pada 24 – 31 Januari 2019. Survei adalah mencari jawaban kemana para responden berafiliasi ke organisasi massa? Survei menunjukkan bahwa 3.7 % responden berafiliasi ke Muhammadiyah, 44% responden berafiliasi ke Nahdatul Ulama, 50.4 % responden tidak berafiliasi ke ormas manapun, 0,8% responden tidak memberikan jawaban. Survei memang sangat singkat tapi bisa menjadi salah satu tolok ukur proses perkaderan Muhammadiyah.

Beberapa pertanyaan muncul, bagaimana bisa muncul survei segini padahal Muhammadiyah memiliki ribuan amal usaha berupa 4623 TK/TPQ, 2604 SD/MI, 1772 SMP/MTS, 1143 SMA/MA/SMK, 67 pondok Pesantren, 172 perguruan tinggi, 457 rumah sakit, 318 Panti Asuhan, 54 Panti Jompo, 82 Panti Rehabilitasi/cacat, 72 SLB, 6118 masjid, 5000 musholla, dan 20.945.50 m2 tanah. Mengapa besarnya capaian Muhammadiyah ini belum berbanding lurus dengan kuatnya pengaruh Muhammadiyah, khususnya meyakinkan orang untuk berafiliasi ke Muhammadiyah. Tantangan Muhammadiyah yang lain adalah menjamurnya paham paham keagamaan di Indonesia seperti gerakan 212 GNPF MUI, gerakan 411 yang bisa menjadi sarana aspirasi masyarakat yang tersumbat.

Kepengurusan perkaderan paling bertanggung jawab terhadap keberlangsungan kader dan sistem perkaderan. Kepengurusan ini mengurus kegiatan kegiatan yang mengacu pada proses berlangsungnya perbaikan sistem kaderisasi, kualitas kader dan kuantitas kader sehingga menjadi tulang punggung Muhammadiyah di masa kini dan akan datang. Sistem perkaderan IPM, Nasyiah dan IMM memiliki panduan Sistem Perkaderan yang mengikat dan terstruktur dari Pimpinan Pusat hingga ke Pimpinan Ranting. Pemuda Muhammadiyah belum memiliki. Organisasi Otonom dalam bingkai Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah serta Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah memiliki sistem perkaderan resmi yang dibukukan. Sedangkan Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah belum meski Pimpinan Wilayah Jawa Timur sudah membuat. Sistem Perkaderan di IPM dan IMM terbagi kedalam kelompok Perkaderan Formal dan Non formal, sedangkan Nasyiah terbagi tiga, Perkaderan Formal, Informal dan Non Formal. Jenis jenis perkaderan yang begitu banyak tidak mampu dilaksanakan dengan lancar karena banyak hal hal yang harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari hari oleh pengurusnya. Perkaderan formal atau perkaderan wajib menjadi satu ukuran keberhasilan kegiatan perkaderan.

Perkaderan AUM di Trenggalek
Muhammadiyah di Trenggalek memiliki perkembangan secara signifikan dilihat dari perkembangan amal usahanya maupun kegiatan organisasinya, terutama Angkatan Muda Muhammadiyah. AMM dengan berbagai permasalahan seperti tumpang tindih kepengurusan, kebutuhan perekonomian kader, kurangnya kader ulama, dan minimnya jumlah pengurus, tetap mampu melaksanakan agenda agenda yang besar, baik agenda Muhammadiyah maupun agenda dari Angkatan Muda Muhammadiyah itu sendiri. Muhammadiyah tidak mampu melaksanakan agenda-agenda sendirian, mereka harus ada dukungan dari Angkatan Muda Muhammadiyah yang rata rata pengurusnya berada di usia dibawah 40 tahun. Mereka menghidupkan berbagai kegiatan demi terwujudnya Muhammadiyah yang berkemajuan.

Kegiatan kegiatan dalam Angkatan Muda Muhammadiyah di Trenggalek ditangani berbagai majelis/bidang. Bidang yang mengurusi atau bertanggung jawab terhadap kelangsungan organisasi dan perkembangan perkaderan adalah bidang kaderisasi dan organisasi. Bidang organisasi dan kaderisasi di Angkatan Muda Muhammadiyah Trenggalek sebagian dipegang satu kepengurusan sebagian tidak. Misalnya Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Trenggalek, Bidang Organisasi dan Kaderisasi dipegang oleh Ana Retno Meutia dibantu oleh Dwi Oktarining Tyas dan Alvionita Denarsa. Ana Retno Meutia adalah kader otentik dari Kecamatan Pule yang menjadi guru di MTSM Tugu, Dwi Oktarinining Tyas adalah guru yang mengabdi di Sekolah Inovatif SD Muhammadiyah Trenggalek, kemudian menikah dan mendapatkan berkah PNS di Solo. Hingga kini menurut informasi salah satu pengurus belum kembali beraktivitas di NA sedangkan Alvionita adalah guru di SMPM Inovatif Trenggalek serta berasal dari kecamatan Pogalan. Bidang Kaderisasi PD IPM Trenggalek diurus oleh Astiti Amalia pelajar dari kecamatan Tugu dan Rica Yunita Fajariani pelajar dari kecamatan Watulimo, sedangkan PDPM diketuai oleh Wahid Syahril Sidik dari Watulimo. Mudah mudahan bidang Kaderisasi diberikan kekuatan oleh Allah untuk menjawab kebutuhan perkaderan di persyarikatan tercinta ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here