konsep alma'un

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir (2020) dalam suatu kesempatan mengungkapkan,”Semangat berbagi kasih pada manusia tanpa sekat, itulah semangat filantropis. Nah Kiai Dahlan, tanpa belajar sejarah barat telah mempraktekkan semangat filantropis, metode itu meletakkan dalam spirit dan jiwa yang berbeda, ketika filantropis di barat sangat pro kemanusiaan tetapi anti ketuhanan karena pemberontakan (atas dominasi gereja), Kiai Dahlan justru memberi fondasi filantropi itu pada-nilai nilai Ketuhanan.

Al Ma’un mengajarkan bahwa Islam adalah agama amaliah. Spirit ini menjadi diaplikasikan beliau dalam kehisupan keseharian. Pada suatu waktu Dahlan mendidik santrinya mengaji surat Al Ma’un (Barang Barang Yang Berguna) yang berulang ulang. Al Ma’un telah dikaji selama sepekan tanpa berganti dengan surat yang lain. Seorang santri kemudian memberanikan diri menanyakan kepada Dahlan mengapa Kyai berulang ulang mengajar Al Ma’un tanpa berganti dengan surat yang lain. Sang guru berujar” Membaca Al Qur’an itu harus mengerti artinya, memahami maknanya, lalu melaksanakannya”. Bila tak menghafal tanpa melaksanakannya, lebih baiktak menambah bacaan surah”. Dahlan lalu mengajak santrinya menuju pasar Beringharjo, Malioboro dan alun-alun kota Yogyakarta. Ia menyuruh santri santrinya membawa fakir miskin tersebut ke Masjid Gede, membagikan sabun, sandang pangan, sehingga fakir miskin tersebut tampil bersih. Sejak itu Muhammadiyah aktif menyantuni fakir miskin dan yatim piatu dengan membentuk Penolong Kesengsaraan Umum yang selanjutnya mampu mendirikan rumah sakit, panti asuhan, dan badan sosial yang lain.

Muhammadiyah didirikan KH Ahmad Dahlan untuk memperbaiki umat yang sedang berada dalam masa kebodohan akibat penjajahan yang tiada henti, pemahaman agama yang condong kepada TBC (Takhayul, Bidah dan Khurafat). Islam di masa Ahmad Dahlan terjebak dalam pensakralan Qur’an maupun ajaran yang bercampur dengan budaya lokal. Qur’an menjadi benda pajangan yang dikeramatkan. Keadaan ini memotivasi beliau untuk mendidik para santri dalam membumikan Al Qur’an. Hajriyanto Y Thohari dalam suatu acara diskusi mengatakan,” Al Qur’an, bagi Dahlan, lebih mementingkan aksi”. Perintah Al Quran melalui aksi tersebut diupayakan untuk diamalkan dalam keseharian beliau. Ulama yang pedagang batik ini tidak segan dan ragu untuk menyantuni mereka yang tidak mampu. (Hery Sucipto : 2005)

Salah satu contoh keteladanan beliau dalam filantropi adalah menyumbangkan sebagian besar buku buku yang dicintainya yang didapatkan dari menimba ilmu dari berbagai pesantren untuk Taman Perpustakaan Muhammadiyah diawal berdirinya organisasi tersebut. Beliau juga memberikan bantuan kepada kepada seorang fakir miskin yang menghampirinya dan memberitahukan bahwa ia tidak mempunyai pakaian yang bersih untuk sholat. Ketika fakir miskin tersebut datang, Ahmad Dahlan langsung mengajaknya ke kamarnya dan beliau meminta langsung kepada fakir miskin tersebut untuk memilih baju yang ada yang disukainya. Di kemudian hari sang fakir miskin tersebut, yang ternyata adalah Raden Aspari pendiri Muhammadiyah Sumber Pucung, wafat. Sesuai wasiat Raden Aspari, keluarganya mengembalikan pakaian tersebut kepada keluarga Dahlan.

Dahlan pada suatu ketika menerima seorang tamu yang ingin bermalam. Dahlan menyambut tamu tersebut dengan suka cita meski pada waktu itu beliau tidak mempunyai persediaan yang cukup untuk melayani tamu. Tiba waktu makan malam Dahlan memberikan jatah makan yang sama terhadap tamu tersebut dengan keluarganya. Beberapa waktu kemudian Dahlan membasuh tangan tamunya setelah makan bersama dengan rasa gundah karena dia merasa tidak mampu menjamu dengan baik lantas berujar, ”hanya inilah saya dapat menghormati saudara”.
Sikap Dahlan membasuhkan tangan tersebut bila dihubungkan dengan masa kekinian merupakan suatu kesantunan yang langka dalam mengasihi, menghormati dan menjaga perasaan sesama. Kesantunan tersebut juga ditampilkan beliau pada suatu diskusi di Ponorogo ketika Kartoparwiro, pendiri Muhammadiyah Ponorogo, merasakan kekesalan atas sikap Wedono setempat. Kartoparwiro menyinggung wedono tersebut. Dahlan yang mengetahui kekesalan para pengurus organisasi yang didirikannya menenangkan mereka dengan santun dan welas asih. Jawabanya memuaskan semua orang baik pengurus Muhammadiyah Ponorogo maupun wedono setempat hingga wedono tersebut dengan ikhlas masuk menjadi pengurus Muhammadiyah.

Spirit Al-Ma’un kader Muhammadiyah Trenggalek
Pada beberapa waktu tahun belakangan terjadi bencana yang tiada henti di kabupaten Trenggalek. Bencana ini entah karena kesalahan manusia atau memang kehendak Tuhan telah terjadi dalam berbagai rangkaian. Ketika musim kemarau Kabupaten Trenggalek menjadi salah satu kabupaten yang menderita kekeringan. Kabupaten Trenggalek yang 80 persen pegunungan memungkinkan untuk menderita kekurangan air. Tahun lalu terjadi kekeringan yang melanda hampir di seluruh kabupaten Trenggalek, terutama daerah pegunungan, seperti Pule, Bendungan, Dongko, Panggul, Munjungan, Kampak dan sebagian tempat di kecamatan kecamatan lain yang terdampak. Imam Mashudin memimpin MDMC Trenggalek bersama Lazismu dan Angkatan Muda Muhammadiyah mengaplikasikan spirit kemanusiaan. Memulai kegiatan dengan berkumpul di SD Inovatif Muhammadiyah untuk menyususn rencana kegiatan. Mereka tiada lelah berusaha membantu sesama yang kekeringan dengan mengirimkan air bersih hasil iuran warga Muhammadiyah ke berbagai tempat hampir di seluruh kawasan yang terdampak kekeringan.

Beberapa bulan kemudian setelah musim penghujan terjadi kebanjiran. Banjir ini melanda kawasan kawasan daerah datar seperti Gandusari, pogalan dan lain lain. MDMC Trenggaek bersama Lazismu dan Angkatan Muda Muhammadiyah turut serta menyemarakkan kegiatan kemanusiaan dengan membantu daerah daerah yang kebanjiran dengan ikut serta membantu rumah rumah yang longsor, membersihkan rumah rumah yang kotor karena air yang masuk serta memberikan bantuan makanan kepada mereka yang membersihkan lingkungan sekitar.

Pada beberapa bulan wabah Corona atau yang dalam bahasa ilmiah disebut Covid 19 melanda seluruh dunia. Wabah virus ini datang dari Wuhan, sebuah kawasan yang ada di China, menjangkiti seluruh dunia. Wabah ini membuat banyak korban berjatuhan dimana mana, mulai dari China, Iran, Eropa, Amerika, Australia, Afrika, serta mewabah ke negara negara Asia. Pada beberapa bulan Maret, April dan Mei 2020 MDMC Trenggalek bersama Lazismu dan Angkatan Muda Muhammadiyah berupaya untuk memutus rantai virus dengan memberikan bantuan kemanusiaan berupa penyemprotan dan pemberian bantuan bahan makanan pokok bagi mereka yang terdampak akibat kebijakan PSBB. Kebijakan PSBB yang hampir di seluruh negeri menjadi salah satu kebijakan yang membuat jurang kemiskinan semakin menganga. Banyak para buruh di kota terkena PHK dan akhirnya tidak bisa bekerja dan tidak bisa pulang. Para pekerja jalanan, seperti ojek online, angkutan umum, becak juga terdampak. Mereka tidak mampu mencari nafkah sehari hari.

Nasiatul Aisyiyah, salah satu ortom di tingkat kabupaten Trenggalek, mengadakan kegiatan Open Donasi 1 dan 2. Kegiatan ini dilakukan dengan cara memberikan bantuan berupa pembagian makanan serta kebutuhan pokok ke sesama, terutama anak anak dan balita. Bantuan didapatkan dari iuran warga Muhammadiyah melalui transfer rekening ke bendahara Nasyiatul Aisyiyah. Kegiatan ini dilandasi dari spirit kemanusiaan yang telah diajarkan oleh pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here